Solusi Islam atas Musibah Banjir di Kab. Subang

9 09 2008

banjir subang pengindraan jarak jauh (SIMBA LAPAN)

banjir subang pengindraan jarak jauh (SIMBA LAPAN) Feb 2007

Selain telah merenggut korban meninggal empat orang, musibah banjir yang melanda empat kecamatan di Kabupaten Subang pada Bulan Januari yang lalu, mengakibatkan diperkirakan 10.000 warga di tujuh kecamatan telah menunjukan gejala terserang penyakit ISPA. Bupati mengatakan, setelah pendataan hingga hari keempat, kerugian akibat banjir mencapai sekira Rp 200 miliar. Banjir juga telah mengakibatkan 8.060 hektare tanaman padi di tujuh kecamatan, terancam puso. (pikiran rakyat 2 feb-2006)

Tepat pada bulan yang sama 4 tahun yang lalu tanggal 15 Januari 2004 Sedikitnya 3.814 unit rumah penduduk di 12 desa dalam Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang terkurung banjir akibat hujan deras yang mengguyur daerah jalur Pantura itu sejak sehari sebelumnya.

Banjir Ujian dan Peringatan

Islam memandang bahwa musibah Banjir adalah sebuah ujian dan peringatan dari ALLAH SWT bagi manusia yang beriman. Umat Muslim wajib mengimani bahwa setiap musibah yang menimpa mereka adalah ketentuan Allah Swt. FirmanNya:

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal. (QS. at-Tawbah [9]: 51).

Sehingga tatkala seorang mukmin tertimpa musibah ia akan bersabar, menjauhkan diri dari sikap putus asa dan mengembalikan seluruh urusan tersebut kepada Allah Swt.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innâ lillâhi wa innâ ilayhi râji’ûn(QS. al-Baqarah [2]:155-156).

Banjir, Ulah Manusia

Allah SWT menciptakan alam semesta, termasuk bumi ini, dengan sesempurna-sempurna ciptaan. Dilekatkan pula pada penciptaan alam semesta, bumi dan seisinya ‘nizhâm al-wujûd’, yaitu aturan-aturan, siklus, dan kaidah-kaidah kausalitas yang pasti terjadi. Itu merupakan ‘sunnatullah’ yang tidak berubah-ubah dan bersifat fixed (tetap). Allah SWT berfirman:

Sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah; sekali-kali kamu tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (QS Fathir [35]: 43).

Oleh karena itu, secara alami, alam semesta, bumi dan seisinya berjalan secara harmonis; mengikuti hukum alam atau sunnatulah yang telah dilekatkan Allah SWT dalam penciptaan. Sayangnya, manusia kemudian melakukan ‘intervensi’ terhadap keharmonisan bumi dan seisinya; entah itu dengan pengrusakan dan penggundulan hutan, penataan tatakota yang keliru, pembuangan limbah industri, angkutan/transportasi, nuklir, limbah militer, limbah rumah tangga, dan lain-lain. Akibatnya, kesetimbangan ekosistem terganggu, dan membawa implikasi yang amat dahsyat. Misalnya saja, berkurangnya lapisan ozon yang melindungi makhluk hidup dari serangan sinar UV overdosis dari matahari, penyakit, kualitas udara dan air terganggu, termasuk banjir.

Berbagai fenomena alam yang menimpa negeri kita akhir-akhir ini tidak lepas pula dari campur tangan manusia yang mengganggu kesetimbangan ekosistem. Allah SWT berfirman:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS ar-Ruum [30]: 41).

Menurut Imam Jalalain dan Imam Ibnu Katsir (bimâ kasabat aydînnâs–>..disebabkan karena perbuatan tangan manusia…) adalah perbuatan-perbuatan maksiat. Artinya, berbagai kerusakan di darat dan di laut yang menimpa manusia adalah akibat kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Maksiat ini ada yang secara langsung merupakan hukum sebab-akibat alami, ada pula yang tidak. Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan bahwa maksud datangnya bencana tersebut tidak lain adalah agar manusia merasakan akibat sebagian ulah mereka—kemaksiatan tersebut, sehingga manusia mau kembali ke jalan Allah Swt. Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah. (QS. asy-Syûrâ [42]: 30-31).

Memang, curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada bulan ini adalah sunnatullah. Siklus lima tahunan yang terjadi akibat kekacauan cuaca regional. Namun bila ditelusuri lebih jauh, air bah dan longsor yang meremukkan pemukiman, harta benda, bahkan merenggut nyawa manusia, disebabkan perbuatan umat manusia sendiri.

Berbagai pembangunan yang menyalahi tata lingkungan, Daerah resapan air dirusak. Masalah lingkungan diabaikan oleh masyarakat, penebangan liar di hutan-hutan selama tiga tahun terakhir juga memiliki andil terjadinya banjir.

Dengan demikian bencana banjir yang menimpa sebagian masyarakat merupakan tadzkirah, peringatan bagi umat manusia, akibat kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat atau semua elemen masyarakat. Allah swt. menegaskan :

Dan takutlah akan fitnah (malapetaka) yang tidak hanya menimpa orang-orang zhalim diantara kalian saja. (QS. al-Anfâl [8]: 25).

Bagaimana Solusi Islam ?

Peran Individu dan Masyarakat

1. Islam juga mendorong setiap individu untuk memberikan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan. Rasulullah saw. bersabda:

Siapa yang melapangkan suatu kesukaran dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan baginya kesukaran di hari Kiamat. (HR. Bukhari Muslim).

Berjalannya seseorang di antara kalian untuk memenuhi kebutuhan saudaranya sampai terpenuhi, lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku selama sepuluh tahun.

Islam mengajarkan setiap muslim memililiki kesalehan individual yang pada gilirannya kesalehan individual harus menciptakan kesalehan sosial masyarakat dalam bentuk amar ma’ruf nahyi munkar.

2. Islam memerintahkan kepada kita untuk menghentikan tindakan pencemaran lingkungan dan hentikan perbuatan kemaksiatan karena akan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem yang dapat mengakibatkan musibah alam.

Adapun kemaksiatan yang tidak secara langsung mengakibatkan banjir adalah meninggalkan penerapan hukum-hukum Allah Pencipta semesta alam. Termasuk didalamnya berbagai macam kemungkaran semisal prostitusi, perjudian, maraknya riba, kaum wanita yang tidak menutup aurat, menerapkan demokrasi, pluralisme, berwali kepada kaum kafir dan menjauhkan umat dari Islam. Hal ini menyebabkan tidak adanya berkah baik dari langit maupun bumi. Sebab, berkah itu hanya diberikan kepada bangsa yang beriman dan bertakwa. Allah swt. memberitahu kita:

Andai saja, penduduk negeri beriman dan bertakwa pasti Kami akan bukakan berkah-berkah atas mereka dari langit dan bumi. (QS. al-A’râf [7]: 96).

Peran Negara/Pemerintah

1. Jika terjadi bencana alam menimpa masyarakat, seperti banjir, negaralah yang pertama kali harus turun tangan memberikan bantuan dan pertolongan bagi rakyat. Ini adalah bagian dari tugas dan peran negara dalam ri’âyah asy-syu’un al ummah. Negara tidak boleh mengandalkan apalagi melimpahkannya kepada pihak masyarakat, tanpa terlebih dahulu berusaha melakukan kewajiban tersebut secara maksimal.

“Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Seorang pemimpin adalah ibarat perisai (pelindung), dimana rakyat berperang bersamanya dan berlindung dibelakangnya.”

“Siapa saja yang menjadi pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin, kemudian ia meninggal sedang ia berbuat curang terhadap mereka maka Allah mengharamkan surga baginya.” (HR Bukhari Muslim)

2. Dalam sistem ekonomi Islam, negara juga harus menyiapkan pos pembelanjaan bagi korban bencana alam di bayt al-mal. Pendapatan pos korban bencana alam itu dapat diperoleh dari kharaj, ghanimah, fa’i, shadaqah, harta orang meninggal yang tidak memiliki ahli waris, harta orang murtad, dan keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan kepemilikan umum

«كَانَ إِذَا جَاءَهُ مَالٌ مِنْ فَيْءٍ أَوْ غَنِيْمَةٍ أَوْ خَرَاجٍ لَمْ يُبَيِّتْهُ وَلَمْ يُقَيِّلْهُ»

Bahwa Nabi saw., jika datang kepada beliau harta fai, ghanîmah, atau kharâj, beliau tidak menyimpannya pada siang hari dan tidak juga menginapkannya. 5 Hadits Mursal, lihat As-Suyuthi, al-Jâmi’ ash-Shaghîr, I/116, Dar Tha’ir al-‘Ilm, Jedah. tt; Al-Manawi, Faydh al-Qadîr,V/118, Maktab at-Tijariyah al-Kubra, Mesir, cet. I. 1356; Al-Khathib al-Baghdadi, al-Kifâyah fî ‘Ilm ar-Riwâyah, I/359, Maktabah al-‘Ilmiyah. Madinah. t.t.

3. Islam memerintahkan negara untuk mengurusi urusan rakyat negara secara tegas harus melarang dan menindak berbagai tindakan dlarar yang dapat merusak keseimbangan lingkungan. Negara harus menjatuhkan sanksi bagi siapa saja yang melakukan tindakan destruktif; penebangan liar, mendirikan bangunan di atas Daerah Resapan Air (DRA), membuang limbah yang beracun dan berbahaya bagi masyarakat dan lingkungan, dsb. Negara juga harus memberikan sanksi bagi para aparat pemerintah yang memberi izin bagi pembangunan di daerah yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Apalagi jika izin tersebut dikeluarkan melalui praktik-praktik KKN. Adapun jika bangunan tersebut telah berdiri maka Negara akan membongkarnya, karena Negara berkewajiban menjaga kemaslahatan umat. Rasul SAW bersabda :

Siapa yang membuat dlarar maka Allah akan memberikan dlarar dengan perbuatannya tersebut, dan siapa yang membuat kesusahan maka Allah akan menyusahkan dirinya

4. Kepemilikan umum tidak boleh dialihkan oleh negara dengan menyerahkan pengelolaannya kepada pihak lain (menjadi milik pribadi, baik swasta nasional atau asing). Pengelolaannya diatur oleh negara, mewakili rakyat. Oleh karena itu, kawasan-kawasan vital dan berfungsi sebagai penyeimbang dalam siklus air, daerah resapan air-yang pada umumnya berupa bukit-bukit, hutan, gunung, pantai, daerah aliran sungai-tidak boleh diubah menjadi milik pribadi. Negara tetap mengontrol daerah-daerah tersebut sebagai ‘daya dukung’ alam terhadap populasi manusia. Negara tidak berhak mengubah kepemilikan umum (milik masyarakat) menjadi milik individu, apa pun dalihnya. Dengan demikian, daerah-daerah seperti gunung, perbukitan, hutan-hutan, rawa-rawa, daerah aliran sungai, dan sejenisnya wajib dikelola oleh negara untuk digunakan bagi kemaslahatan rakyat. Salah satu bentuk kemaslahatan itu adalah pengelolaan daerah-daerah tersebut secara profesional sebagai daya dukung alam bagi kesejahteraan umat manusia dan keseimbangan lingkungan.

Manusia berserikat atas air, api dan padang rumput. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

5. Islam memiliki seperangkat aturan/hukum yang bersifat spesifik dan berkaitan dengan tanah. Islam mendorong umat manusia untuk mengelola tanah secara produktif. Tanah-tanah terlantar (yang dibiarkan tidak tergarap, meskipun berpotensi subur) akan menjadi hak milik si penggarap. Syaratnya, selama tanah tersebut dikelola dan digarap. Rasulullah saw. bersabda:

Siapa saja yang telah menghidupkan sebidang tanah mati maka tanah itu adalah miliknya. (HR al-Bukhari).

Khalifah Umar bin al-Khaththab r.a. pernah mengeluarkan keputusan yang mengalihkan kepemilikan tanah-tanah (pertanian)-yang dibiarkan pemiliknya hingga terlantar selama tiga tahun-menjadi milik siapa saja yang sanggup menghidupkan (mengelolanya). Ini menunjukkan bahwa perhatian Negara saat itu terhadap produktivitas tanah sangat besar. Tentu saja, kebijakan semacam itu sangat bermanfaat dalam memotivasi rakyat untuk bekerja produktif, mengatasi pengangguran, dan berdampak pada pemerataan harta melalui pembagian tanah-tanah terlantar (ardhu al-mawât).

Kesimpulan

Dengan demikian jelas nampak bagaimana Allah melalui syariat Islam telah memberikan petunjuk yang tepat atas berbagai permasalahan umat. termasuk solusi bagi seluruh problem manusia. Aturan ini diciptakan oleh Zat Yang tidak memiliki kelemahan dan juga tak punya kepentingan. Oleh karena itu, aturan ini pasti sempurna. Allah SWT berfirman:

.Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS an-Nahl [16]: 89).

Mudah-mudahan kita semua Iman terhadap kebenaran syariat Islam yang bersumber pada Al-Qur’an. Dan Mudah-mudahan kita semua mau mengamalkan syariat Islam dan menjauhi syariat selain Islam. Amin

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu”. (QS. Al-Maaidah 48).

Sesungguhnya Allah telah memuliakan kita dengan Islam dan menjadikan kita mulia karenanya. Allah SWT berfirman:

وَلله العِزَّةُ ولِرسُولِهِ وَلِلمُؤمِنِينَ

“Kemuliaan adalah bagi Allah, Rasul, dan orang-orang beriman.” (QS. Al Munafiqun [63]: 8)


Actions

Information

One response

12 04 2009
adivictoria1924

assalmu’alikum, artikelnya ana copy paste dengan sedikit editan ya…:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: